STOP Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak!!!

Oleh: Nur Rokhanah

 

            Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar topik kekerasan berbasis gender? Kekerasan fisik yang dilakukan terhadap perempuan dan anak? Ya, itu salah satunya. Namun kekerasan berbasis gender tidak terbatas pada kekerasan fisik semata, kekerasan seksual dan psikologis juga termasuk di dalamnya. Kekerasan berbasis gender juga bukan hanya terjadi di dunia nyata, namun juga banyak mengancam di dunia maya.

 

Kekerasan terhadap Perempuan

          Kekerasan terhadap perempuan merupakan tindak kekerasan secara fisik, seksual, maupun psikologis yang dapat terjadi dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Di berbagai tempat bisa terjadi kekerasan terhadap perempuan. Seperti di dalam rumah yang bahkan dilakukan oleh anggota keluarga yang seharusnya melindungi, di jalan raya, kendaraan umum, bahkan di institusi pendidikan yang menyebarkan kampanye anti kekerasan berbasis gender, hingga di tempat kerja.

Jenis kekerasan terhadap perempuan juga berbagai macam, seperti kekerasan fisik, seksual, psikis, sosial dan ekonomi. Kekerasan terhadap perempuan ini masih banyak terjadi di masyarakat kita. Akan tetapi hanya sebagian kecil yang berani melaporkannya. Beberapa perempuan lebih memilih bungkam. Takut mendapatkan kekerasan yang lebih parah, diancam oleh pelaku, bungkam karena malu akan menjadi bahan bullying jika tersebar, atau bahkan karena ketidaktahuan korban harus melaporkan tindak kekerasan pada siapa. Semua itu merupakan alasan tidak adanya perlawanan mengenai kekerasan terhadap perempuan sehingga membuat pelaku semakin semena-mena.

 

Kekerasan terhadap Anak

            Fakta kekerasan terhadap anak di Indonesia sangat memprihatinkan. Data kekerasan anak Indonesia (UNICEF 2015) yang dilansir dari Infodatin: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, ISSN 2442-7659) menunjukkan bahwa 50% anak mengalami bullying di sekolah, 40% anak mendapatkan hukuman fisik setidaknya satu kali dalam setahun, dan 26% anak mendapatkan hukuman fisik di rumah. Layakkah anak-anak kita mendapatkan itu semua?

            Bentuk kekerasan terhadap anak dapat berupa kekerasan fisik, seksual, psikis, maupun penelantaran. Anak-anak rentan menjadi objek kekerasan karena sebagian besar orang tua menganggap anak sebagai objek/hak milik sehingga orang tua bebas melakukan apa saja. Kurangnya pengetahuan orang tua terhadap ilmu parenting juga menjadi salah satu penyebabnya. Orang tua seringkali menuntut anak untuk dapat menjadi seperti yang mereka inginkan tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya anak inginkan. Anak juga seringkali menjadi pelampiasan jika kondisi psikis dan ekonomi orang tua sedang dalam guncangan. Belum lagi di lingkungan sekolah, perundungan atau bullying masih merajalela. Jika diusut hanya berujung pada permintaan maaf di sosial media. Tapi trauma yang dialami anak korban bullying akan tetap terasa hingga dewasa.

 

Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

            Mari kita bahu-membahu mencegah dan menghentikan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Mulai dari diri sendiri. Menjadi perempuan yang unggul, cerdas, percaya diri, dan berani menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pendengar yang baik untuk para korban kekerasan tanpa kita menghakimi. Membantu para korban kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan melaporkannya pada pihak terkait, seperti Komnas Perempuan dan Komnas Perlindungan Anak. Mari bersama-sama mewujudkan Indonesia aman untuk perempuan dan anak-anak.

Komentar